Salah satu petunjuk Nabi yang banyak ditinggalkan oleh kaum muslimin adalah meluruskan, merapatkan, dan menyempurnakan shaf di dalam shalat. Kurangnya atau tidak adanya perhatian kaum muslimin terhadap masalah ini nampak dengan shaf yang renggang dan ada pula yang tidak sejajar. Ada pula yang shaf depannya belum penuh, lalu makmum sudah membuat shaf yang baru di belakangnya.
Hal ini bukan semata-mata kesalahan makmum, tetapi terkadang imampun lupa untuk mengatur shaf makmumnya. Begitu iqomah di kumandangkan imam begitu saja berdiri pada tempat dan langsung melaksanakan shalat. Terkadang pula juga merupakan kesalahan makmum karena tidak adanya pengetahuan akan hal ini.
Oleh karena itu dengan pembahasan ini semoga menjadi tambahan ilmu bagi kaum seluruh kaum muslimn. Bagi sang imam bisa menjadi pengingat dan bagi makmus semoga menjadi kesadaran untuk bisa bersama-sama imam mewujudkan shalat yang lebih baik.
Dalam uraian singkat ini akan dibahas dengan urangan tentang meluruskan shaf, merapatkan dan menyempurnakan shaf terdepan.
Meluruskan shaf.
Hadit yang memerintahkan untuk meluruskan shaf diantaranya hadits yang diriwayatkan sahabat An Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu, Rasulullahsaw bersabda:
لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ
“Sungguh luruskanlah shaf kalian, atau (jika tidak) Allah akan benar-benar menimbulkan perselisihan di antara wajah-wajah kalian.” [HR Al Bukhari (177) dan Muslim (436)]
Hadits ini mengandung perintah yang sangat tegas untuk meluruskan shaf , dan ancaman yang sangat keras bagi yang tidak melakukannya. Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Yang tampak (bagi kami) -wallahu a’lam- maknanya adalah: Allah akan menimbulkan permusuhan, kebencian, dan perselisihan hati di antara kalian.”
Hadits lain yang juga memerintahkan untuk meluruskan shaf adalah hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah saw bersabda:
سووا صفوفكم فإن تسوية الصف من تمام الصلاة
“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya kelurusan shaf adalah bagian dari kesempurnaan shalat.” [HR Muslim (433)]
Hadits ini menerangkan bahwa di antara hal yang membuat shalat menjadi sempurna adalah shaf yang lurus. Jika shaf shalat tidak lurus maka shalat berjamaah menjadi kurang nilainya.
Merapatkan shaf.
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata:
أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ، فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ، فَقَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا، فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي
“Shalat telah ditegakkan (iqamah), lalu Rasulullah menghadap kepada kami, lalu berkata: “Luruskan shaf-shaf kalian dan saling merapatlah kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku.” [HR Al Bukhari (719)]
Di dalam hadits ini rasulullah memerintahkan untuk meluruskan shaf dan merapatkan shaf. Cara merapatkan shaf adalah dengan menempelkan telapak kaki dengan telapak kaki orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya, sebagaimana yang akan dijelaskan pada hadits Anas bin Malik dan An Nu’man bin Basyir setelah ini.
Hadits ini juga mengandung petunjuk bagi imam, bahwasanya imam itu ketika meluruskan shaf harus berbalik badan menghadap ke arah makmum agar mengetahui kondisi shaf. Imam tidak cukup meluruskan shaf dengan posisi badan dan kepala tetap menghadap ke depan. Ini adalah suatu kesalahan yang sering dilakukan oleh para imam shalat.
Perintah untuk meluruskan dan merapatkan shaf.
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah bersabda:
أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ولا تذروا فرجات للشيطان، ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله
“Luruskanlah shaf-shaf, sejajarkanlah pundak dengan pundak, isilah bagian yang masih renggang, bersikap lembutlah terhadap lengan teman-teman kalian (ketika mengatur shaf), dan jangan biarkan ada celah untuk (dimasuki oleh) syaithan. Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya).” [HR Abu Daud (666). Hadits shahih.]
Hadits ini berisi beberapa faidah, di antaranya:
a. Perintah untuk meluruskan shaf, yaitu dengan cara menyejajarkan kaki dan pundak.
b. Perintah untuk mengisi bagian shaf yang masih kosong.
c. Perintah untuk bersikap lemah dan lembut ketika mengatur barisan shaf, dan tidak asal menarik makmum ke depan atau mendorong mereka ke belakang.
d. Perintah untuk merapatkan shaf dengan serapat-rapatnya agar tidak ada celah antara dua orang yang bersebelahan untuk dimasuki oleh syaithan.
e. Menyambung shaf adalah salah satu sebab untuk mendapatkan rahmat Allah. Sebaliknya, memutuskan shaf adalah salah satu sebab terputusnya seseorang dari rahmat Allah.
Perintah untuk menyempurnakan shaf yang terdepan terlebih dahulu.
Dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah saw bersabda:
ألا تصفون كما تصف الملائكة عند ربها؟ فقلنا: يا رسول الله، وكيف تصف الملائكة عند ربها؟ قال: يتمون الصفوف الأول ويتراصون في الصف
“Tidakkah kalian bershaf sebagaimana para malaikat bershaf di sisi Rabb mereka?” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara para malaikat bershaf di sisi Rabb mereka?” Nabi menjawab: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf yang terdepan dan saling merapat di dalam shaf.” [HR Muslim (430)]
Hadits di atas mengandung perintah kepada kita untuk menyempurnakan shaf yang lebih depan terlebih dahulu, barulah mengisi shaf yang berikutnya, dengan tetap merapatkan barisan shaf. Demikianlah cara para malaikat berbaris di sisi Allah ta’ala. Hadits Jabir juga mengandung perintah agar kita meneladani dan mengambil contoh kebaikan dari hamba-hamba Allah yang shalih.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment